“Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah tanya apa agamamu.”
Gus Dur
Tahukah kamu KH. Abdurrahman Wahid?
KH. Abdurrahman Wahid adalah Presiden ke-4 Republik Indonesia. Saat lahir, ia diberi nama Abdurrahman ad-dakhil. Namun, diganti menjadi Abdurrahman Wahid karena orang lebih mengenalnya dengan nama itu. Ayahnya bernama KH. Wahid Hasyim dan ibunya bernama Nyai Solichah. Ayahnya merupakan Menteri Agama pertama Republik Indonesia sekaligus putra dari Pendiri organisasi Islam terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH. Hasyim Asy’ari.
Karena berasal dari keluarga pesantren dan kyai, Abdurrahman Wahid biasa disapa Gus Dur sebagai tanda penghormatan masyarakat kepada putra Kyai. Gus Dur lahir di Denanyar Jombang 4 Agustus 1940. Versi lain menyebutkan ia lahir 7 September 1940.
Gus Dur harus ikut ayahnya pindah dari Jombang ke Jakarta dua kali di tahun 1944 dan tahun 1949 karena ayahnya dipercaya menjadi Ketua Pertama Masyumi dan Menteri Agama Pertama Republik Indonesia.
Sejak kecil Gus Dur terkenal sangat nakal lho. Meskipun begitu, ia sangat rajin membaca buku. Buktinya, di umurnya yang masih SMP, ia seringkali dipergoki bolos sekolah hanya untuk membaca buku di Perpustakaan Umum Jakarta. Bahkan ketika SMP ia telah menghabiskan buku di perpustakaan pribadi ayahnya.
Saking sukanya membaca buku, mata Gus Dur pun harus terganggu hingga harus memakai kacamata sejak belia.
Saat kuliah, hobi Gus Dur bertambah dengan mulai menyukai film. Saat kuliah di Al-Azhar Mesir, Ia sering pergi ke bioskop hanya untuk menonton film yang baru saja rilis. Akhirnya, ia pun harus pindah kuliah ke Baghdad Irak karena jarang masuk kuliah.
Kawan, Kegemarannya membaca buku dan menonton film menghantarkannya menjadi sosok yang kritis dan pemberani dengan menjadi aktivis yang sering membela kemanusiaan yang menentang ketidakadilan. Ia sering kali memosisikan diri sebagai orang yang kritis terhadap praktik ketidakadilan khususnya yang terjadi kepada kaum minoritas.
Di tahun 1984-1995, dirinya terpilih sebanyak tiga kali menjadi ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Setelah itu, di tahun 1999 satu tahun setelah reformasi, Gus Dur terpilih menjadi Presiden ke-4 RI.
Di masa itulah kawan, pembelaannya terhadap praktik ketidakadilan dan terhadap minoritas dibuktikan. Ia meresmikan agama Konghucu sebagai agama yang diakui sekaligus menjadi hari Imlek sebagai hari libur nasional. Sayang sekali, kepemimpinannya sebagai Presiden harus berakhir satu tahun kemudian, yaitu pada bulan Mei tahun 2000.
Di hari senjanya, lima tahun menjelang wafat, Gus Dur mendirikan Wahid Institute (sekarang Wahid Foundation) pada tanggal 7 September 2004 sebagai bentuk dedikasinya terhadap kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian. Akhirnya, pada tanggal 30 Desember 2009 ia menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Meskipun begitu, para penggemarnya masih memeringati hari wafatnya dengan berdoa bersama dan mengingat jasa-jasanya.