Marsinah, Aktifis Buruh

Lama bekerja, dengan semangat dan cara ia berpikir kritis, ia sering membela teman-temannya dari ketidakadilan yang mereka terima dari tempatnya bekerja.

Marsinah Kecil, Penuh Semangat dan Berprestasi

Marsinah adalah aktivis pejuang buruh yang  mempunyai semangat tinggi berjuang untuk keadilan. Ia lahir  10 April 1969 di Nganjuk Jawa Timur dari ayah bernama Sumini dan ibu bernama Mastin.

Saat ia berumur 3 tahun, ibunya meninggal dunia. Semenjak itulah ia diasuh oleh neneknya yang bernama Puri’ah dan bibinya yang bernama Sini.

Sejak kecil, Marsinah hidup sangat prihatin dan harus berjualan untuk menambah penghasilan keluarganya. Walaupun harus berjualan, Marsinah kecil tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi.

Ia belajar dari bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat SMA  ia rela meninggalkan keluarganya untuk mondok di salah satu Pondok Pesantren Muhammadiyah di Kota Nganjuk.

Saat mondoklah ia menunjukkan prestasinya. Ia seringkali mendapatkan juara kelas hingga akhir kelas 3. Sayangnya, keterbatasan ekonomi nggak mampu membuatnya meneruskan pendidikan ke bangku kuliah.


Marsinah Bekerja dan Terus Belajar

Karena itulah, ia memilih untuk bekerja. Ia mengirim lamaran pekerjaan ke sejumlah pabrik di kota Gresik dan Surabaya sampai suatu hari ia diterima di pabrik sepatu BATA.

Satu tahun bekerja di sana, ia nggak merasa cukup puasa dengan gajinya. Akhirnya, ia pun pindah dari satu pabrik ke pabrik lainnya sampai ia diterima di pabrik arloji milik PT Catur Putra Surya di Rungkut Surabaya.

Walaupun sudah bekerja, ia terus belajar. Ia yakin kalau pengetahuan bisa mengubah nasib seseorang termasuk dirinya. Ia sering sekali mengumpulkan banyak informasi dari warta berita radio dan TV sampai membuat kliping berita dari koran.


Perjuangan Marsinah

Lama bekerja, dengan semangat dan cara ia berpikir kritis, ia sering membela teman-temannya dari ketidakadilan yang mereka terima dari tempatnya bekerja.

Sampai suatu hari di pertengahan April 1993, ia dan teman-teman buruh lainnya mendengar kabar kenaikan upah dari Surat Edaran Guberbur Jawa Timur sebesar 20%. Tapi, kabar tersebut dilewati begitu saja oleh PT Catur Putra Surya tempat Marsinah bekerja.

Di awal bulan Mei 1993, Marsinah dan teman-teman buruh lainnya memutuskan mogok kerja sebagai bentuk protes kepada PT Catur Putra Surya. Marsinah dan teman-temannya juga menuntut untuk menaikkan upah mereka seperti dalam Surat Edaran Gubernur.

Satu hari setelahnya 4 Mei 1993, Marsinah pergi ke Kantor Departemen Ketenagakerjaan (Depnaker) untuk mencari informasi daftar upah pokok regional untuk ia tunjukkan kepada PT Catur Putra Surya.

Besoknya, 4 Mei 1994, Marsinah dan teman-temannya kembali mogok kerja dan berunjuk rasa dengan tuntutan yang sama. Unjuk rasa mereka dihalangi petugas keamanan pabrik. Setelahnya, ada beberapa teman Marsinah yang dipanggil Kodim dan diminta menandatangani surat PHK.

Marsinah nggak terima, ia pergi ke Kodim untuk menanyakan kabar dan nasib temannya. Malamnya, Marsinah tiba-tiba menghilang tanpa ada petunjuk sedikitpun.

Tiga hari kemudian, Marsinah ditemukan meninggal dunia. Ia rupanya dibunuh dan dibuang di pinggiran hutan Jati Wilangan. Jenazahnya dipenuhi luka kekerasan.

Kasus pembunuhannya masuk dalam International Labour Organization sebagai peristiwa yang belum menemui kepastian. Demikian kisah hidup Marsinah, seorang wanita pemberani pembela hak buruh.